Editorial Redaksi:
Sejarah Republik Islam Iran adalah catatan panjang tentang ketahanan di tengah badai, Meninggalnya Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, bukan sekadar Kepergian biasa. Kepergian sang ulama moderat yang selama lebih dari tiga dekade menjadi penjaga keseimbangan dunia, kini telah membuka babak baru yang diprediksi akan membawa Iran ke era yang lebih keras,Tegas dan lebih militeristik,
Di mata sebagian para pengamat, kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei selalu menjadi simbol kehati-hatian yang dibalut ketegasan. Ia adalah seorang ideolog sejati, Salah satu warisan terpentingnya adalah fatwanya yang melarang produksi dan penggunaan senjata nuklir di iran. Fatwa ini bukan sekadar opini keagamaan,ia adalah tameng diplomatik Iran, sebuah argumen moral yang konsisten digunakan untuk menangkis tekanan Barat di tengah program nuklir sipilnya yang terus berjalan.
Namun, dengan Kepergian Sang Ayatullah Ali Khamenei,Fatwa pelarangan Senjata Nuklirnya telah Berakhir,telah Pergi Bersamanya di kehadirat Illahi.
Kini, Republik Islam berada dalam ruang tunggu untuk menanti fatwa baru dari pengganti Almarhum Sayid Ali Khamenei Dan arah angin perubahan sudah mulai terasa. Kecenderungan yang muncul dari lingkaran dalam mengindikasikan sebuah pergeseran paradigma, dari “senjata nuklir adalah haram” menuju “senjata nuklir adalah kebutuhan untuk menjaga keamanan Rakyat negara Iran dari serangan Setan Dajjal Zionis Israel dan Amerika Serikat”
Kekhawatiran ini bukannya tanpa dasar. Bertahun-tahun Iran menyaksikan Negara dan Ulama serta Rakyatnya diserang, negara-negara tetangganya dipersenjatai dengan teknologi canggih oleh kekuatan asing barat dan zionis, sementara mereka sendiri hidup di bawah tekanan, bayang-bayang sanksi, ancaman dan serangan teror, terutama dari Zionis Israel dan Amerika Serikat.
Rasa terancam dan Trahoma yang kronis ini kini telah mencapai titik didihnya. Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei karna diserang oleh teroris Israel dan Amerika membuat Rakyat Iran marah besar.
Meninggalnya sosok yang selama ini mampu meredam kekuatan-kekuatan garis keras di parlemen dan korps militer iran seolah melepas rem darurat yang selama ini menahan laju kendaraan menuju Dunia militerisme.
Ingatan kita masih segar pada beberapa tahun lalu, ketika Parlemen Iran, yang didominasi oleh fraksi-fraksi konservatif keras, menyetujui sebuah rancangan undang-undang yang memberikan opsi kepada pemerintah untuk membuat senjata nuklir. Saat itu, usulan tersebut “ditahan” oleh Ayatullah Ali Khamenei.
Dengan kepemimpinan baru yang kemungkinan besar lebih dekat dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), angin perubahan bertiup kencang. Suara-suara yang selama ini terbungkam mulai lantang. Argumen mereka sederhana namun menusuk, “Di dunia yang kejam ini, hanya kekuatan yang membuatmu dihormati dan Aman. Korea Utara bertahan karena bom Nuklirnya, mengapa Iran tidak?” Logika realisme politik yang pahit ini sepertinya akan menjadi fondasi bagi fatwa baru yang telah lama dinanti-nantikan Rakyat Iran.
Jika fatwa baru itu memang mengizinkan pengembangan senjata nuklir, maka Iran akan berubah. Negara ini tidak hanya akan menjadi “lebih keras” tetapi juga “lebih militeristik” dalam kebijakan. Program nuklir yang selama ini transparan (dengan segala kontroversinya) mungkin akan masuk pada Ketegasan Senjata Nuklir, dipercepat, dan diubah haluan.
Meninggalnya Imam Ali Khamenei sepertinya adalah akhir dari sebuah era moderasi yang di iran. Republik Islam Iran kini berdiri di persimpangan. Pilihan untuk menjadi negara ambang nuklir (nuclear threshold state) atau negara nuklir de facto, Senjata Nuklir bukan lagi sekadar wacana di ruang tertutup para akademisi, melainkan sebuah opsi nyata yang Kini menunggu legitimasi Para Ayatullah (ulama) di Iran,dan sepertinya Republik Islam Iran akan mengambil opsi Pembuatan senjata Nuklir demi Keamanan Negara dan Rakyatnya dalam Melawan Kedzaliman Global,Dunia Memang Kejam,Hipokrit dan Tidak Adil Terhadap Republik Islam Iran.
Al fatehah untuk Almarhum Ayatullah Sayid Ali Khamenei…Amin.