Pernyataan keras menyeruak dari kubu oposisi Amerika Serikat di tengah mencekamnya situasi geopolitik Timur Tengah. Mantan Wakil Presiden AS, Kamala Harris, melontarkan kecaman tajam terhadap serangan militer AS ke Iran yang dilancarkan atas perintah Presiden Donald Trump. Bukan sekadar kritik terhadap kebijakan luar negeri, pernyataan Harris yang diunggah melalui akun X resminya pada Minggu (1/3/2026) merupakan sebuah dakwaan politis yang menusuk inti kredibilitas Trump: tuduhan bahwa dirinya telah mengkhianati mandat rakyat dan menyeret bangsa ini ke dalam jurang perang yang tidak dikehendaki.
“Serangan perubahan rezim di Iran” adalah frasa kunci yang digunakan Harris untuk membingkai operasi militer tersebut. Dengan tegas ia menyatakan, “Saya menentang perang perubahan rezim di Iran, dan pasukan kita ditempatkan dalam bahaya demi perang pilihan Trump.” Di sini, Harris tidak hanya mempersoalkan eskalasi konflik, tetapi juga menyoroti motif di baliknya. Ia mengangkat narasi bahwa operasi ini bukan semata-mata tentang keamanan nasional, melainkan ambisi pribadi Trump untuk menggulingkan pemerintahan di Tehran—sebuah ambisi yang ia sebut sebagai “pertaruhan yang berbahaya dan tidak perlu.”
Kritik Harris menjadi semakin tajam ketika ia mengungkit janji-janji kampanye Trump. Tuduhan bahwa lawannya itu telah berbohong kepada publik menjadi inti dari serangan retorisnya. “Dia berjanji untuk mengakhiri perang daripada memulainya,” ujar Harris, merujuk pada platform kampanye Trump yang seringkali mengusung narasi anti-perang dan menarik AS dari petualangan militer di luar negeri. Lebih lanjut, ia mengutip klaim Trump tahun lalu tentang program nuklir Iran yang disebut telah ‘dihancurkan’. Harris menyebut klaim itu sebagai “bohong” dan sebuah bukti bahwa pemerintahan Trump telah gagal memahami atau sengaja menyesatkan publik tentang ancaman sesungguhnya. Kontras antara retorika damai di masa kampanye dengan tindakan agresif di masa kekuasaan menjadi landasan argumen Harris bahwa Trump adalah pemimpin yang tidak dapat dipercaya.
Di balik kecaman politik, Harris juga menyisipkan nada keprihatinan yang personal dan nasionalistik. Ia menyatakan akan “berdoa untuk semua prajurit pria dan wanita pemberani AS” yang kini ditempatkan di garis bahaya. Seruan doa ini bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah cara untuk membangun empati dan menggarisbawahi konsekuensi manusiawi dari keputusan politik yang terburu-buru. Harris dengan lihai membandingkan pengorbanan para prajurit dengan kelayakan mereka untuk dipimpin oleh seorang Panglima Tertinggi yang matang dan berdisiplin. Implikasinya jelas: Trump tidak memiliki kualitas tersebut.
Dari sudut pandang konstitusional dan demokratis, Harris menekankan bahwa serangan ini “tidak bijaksana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak didukung oleh rakyat Amerika.” Tuduhan bahwa Trump tidak mendapatkan persetujuan kongres menjadi poin krusial. Ia menyerukan Kongres untuk menggunakan “semua kekuatan yang tersedia” guna membendung eskalasi lebih lanjut. Seruan ini menyiratkan bahwa tindakan eksekutif yang sepihak telah melampaui batas wewenangnya dan mengabaikan checks and balances, sebuah pilar fundamental dalam sistem pemerintahan AS.
Ironi besar terletak pada posisi Harris sendiri di masa lalu. Saat berkampanye pada Oktober 2024, ia pernah menyebut Iran sebagai “musuh terbesar” Amerika yang memiliki “darah Amerika di tangan mereka.” Retorika kerasnya terhadap Tehran saat itu menunjukkan bahwa dirinya pun tidak segan untuk bersikap konfrontatif. Namun, perbedaan mendasar yang ia tawarkan kini terletak pada proses dan justifikasi. Ia mengkritik “perang pilihan Trump” sebagai sebuah tindakan provokatif yang tidak melalui pertimbangan matang dan mandat rakyat, bukan sekadar keberadaan konflik itu sendiri.
Sementara Harris melontarkan protesnya, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang mengerikan. Serangan gabungan AS-Israel yang dilaporkan The Hill itu telah menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk puluhan siswi di sebuah sekolah di Iran selatan, serta menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Skala serangan yang masif dengan lebih dari 200 jet tempur Israel dan hantaman terhadap 24 dari 31 provinsi Iran menunjukkan bahwa konflik ini telah memasuki babak baru yang sangat berbahaya.
Pada akhirnya, kritik Kamala Harris terhadap serangan AS ke Iran adalah cerminan dari perpecahan mendalam dalam politik Amerika tentang bagaimana seharusnya negara adidaya itu memosisikan diri di dunia. Ini adalah pergulatan antara kekuatan diplomasi dan agresi militer, antara kepatuhan pada hukum dan ambisi personal, serta antara mandat rakyat untuk perdamaian dan risiko perang yang dipaksakan. Di tengah berkabungnya korban jiwa dan ketidakpastian yang menyelimuti kawasan timur tengah.