Opini publik: dulwahab Mumu Nasaru (jurnalis,pakar Iranology,santri madrasah Rausyanfikr).
Tahun 2026 mencatat babak baru dalam dinamika geopolitik global. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga menciptakan shockwave ekonomi yang terasa hingga ke Indonesia. Di tengah krisis yang oleh banyak pihak dilihat sebagai ancaman, tersembunyi sebuah peluang historis bagi Indonesia. Saat harga minyak dunia bergejolak dan rantai pasok terganggu, justru terbuka kesempatan bagi indonesia untuk mengamankan kepentingan energi nasional secara langsung dari sumbernya: Iran dan Yaman . mengapa investasi langsung di sumur minyak kedua negara Islam Syiah tersebut bukan sekadar opsi, melainkan sebuah keniscayaan strategis untuk membebaskan Indonesia dari cengkeraman tekanan harga energi global.
Mengapa Iran dan Yaman?
Iran saat ini memiliki cadangan minyak terbukti terbesar keempat di dunia dan merupakan anggota pendiri OPEC. Namun, potensi yang dimaksud di sini bukan hanya soal besarnya volume, tetapi juga soal “kesegaran” aksesnya. Di tengah blokade dan sanksi ekonomi yang dipimpin AS, Iran membutuhkan mitra yang berani mengambil sikap geopolitik independen. Bagi Iran, imbalan atas investasi asing adalah akses eksklusif terhadap ladang-ladang minyaknya yang berkualitas premium.
Data terbaru menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar Rusia telah bergerak cepat memanfaatkan celah ini. Sekitar 6% produksi minyak nasional Iran saat ini dikelola oleh perusahaan Rusia, dengan target ditingkatkan menjadi 12% dalam waktu dekat. Investasi telah mengalir ke tujuh ladang minyak besar di Iran . Ini adalah preseden nyata: ketika Barat memutus hubungan, Rusia masuk dan mengamankan porsi produksi yang signifikan. Indonesia tidak boleh terlambat.
Sementara itu, Yaman yg merupakan Proxy Iran menyimpan potensi minyak dan gas yang belum tergarap secara masif. Penguasa Houthi Yaman yang merupakan “satu front” dengan Iran dalam poros perlawanan (Axis of Resistance), menguasai sebagian besar wilayah strategis Yaman .
Kendali Dua Chokepoint Vital
Daya tarik utama dari kedua negara ini bukan hanya terletak pada minyaknya, tetapi pada posisi geografisnya yang mengontrol dua jalur suplai energi paling vital di dunia: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb .
Selat Hormuz (Iran) : Sekitar 20% minyak dunia melewati selat ini. Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk “menutup” atau setidaknya memperketat kendali atas selat ini sebagai senjata geopolitik .
Selat Bab el-Mandeb (Yaman) : Menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Terusan Suez. Sekitar 12% perdagangan minyak dunia dan 10% total minyak mentah global melintasi jalur sempit ini setiap hari . Kelompok Houthi, yang didukung Iran, telah beberapa kali mengancam akan menutup selat ini sebagai bentuk tekanan kepada AS dan sekutunya .
Dengan berinvestasi di ladang minyak Iran dan Yaman, Indonesia tidak hanya mendapatkan pasokan fisik minyak. Lebih dari itu, Indonesia memperoleh akses istimewa di belakang “gerbang tertutup”. Jika suatu saat konflik meningkat dan kedua selat tersebut diblokade untuk kepentingan negara-negara tertentu, Indonesia yang telah menjadi mitra investor justru akan mendapatkan status prioritas atau bahkan dikecualikan dari blokade. Ini adalah bentuk jaminan energi tertinggi.
Pelajaran dari Rusia: Model Investasi, Bukan Sekadar Pembeli
Indonesia harus belajar dari strategi Moskow. Rusia tidak sekuduk membeli minyak Iran di pasar spot. Mereka melakukan pendekatan yang lebih cerdas: investasi hulu (upstream investment) . Dengan menguasai saham di ladang-ladang minyak, Rusia memperoleh tiga keuntungan sekaligus:
–Harga Biaya Pokok (Cost of Goods Sold/COGS) yang Rendah: Karena menjadi pemilik produksi, Rusia mendapatkan minyak dengan harga yang jauh di bawah harga pasar global yang fluktuatif.
–Ketahanan dari Sanksi: Transaksi investasi fisik sulit dikenai sanksi sekunder oleh AS karena menyangkut aset produktif.
–Pengaruh Geopolitik: Dengan menguasai 12% produksi Iran (target), Rusia menjadi pemain kunci dalam kebijakan energi Teheran.
Indonesia harus mengikuti jejak ini. Pertamina, MedcoEnergi, atau konsorsium BUMN energi harus segera bernegosiasi untuk mendapatkan Production Sharing Contract (PSC) atau partisipasi langsung di ladang-ladang yang ditawarkan Iran dan otoritas Yaman (Houthi).
Dampak Ekonometri bagi Indonesia: Jatuhnya Harga Barang
Sekarang, mari kita berbicara tentang efek langsung terhadap rakyat Indonesia. Teori ekonomi dan data empiris sangat jelas: Harga energi adalah ibu dari segala harga (energy price is the mother of all prices).
Penelitian akademis di Indonesia menunjukkan bahwa di dalam negeri, harga minyak global memiliki pengaruh signifikan terhadap permintaan impor migas dan pada akhirnya terhadap inflasi . Ketika harga minyak mentah dunia naik, terjadi peningkatan biaya transportasi, biaya produksi pabrik, dan biaya logistik. Akibatnya, harga sembako, barang elektronik, hingga bahan bangunan ikut melambung.
Saat ini, Indonesia masih menjadi net importer minyak. Rupiah kita sangat rentan terhadap oil price shock . Namun, jika Indonesia memiliki sumber minyak sendiri melalui investasi di Iran dan Yaman, kita dapat melakukan “transfer pricing” atau harga khusus yang tidak terpengaruh oleh volatilitas pasar komoditas global.
Implikasinya Positif yg Optimistis:
1
-Biaya Logistik Turun: Industri JNE, Gojek, atau truk logistik tidak perlu menaikkan tarif.
-Harga Produk Turun: Pabrik tidak perlu membebani konsumen dengan kenaikan biaya energi.
-Rakyat Bernapas Lega: Inflasi terkendali, daya beli masyarakat menengah ke bawah terjaga.
Ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah logika ekonomi yang sederhana: Kepemilikan aset produksi di sumbernya memutus rantai spekulasi pasar global.
Realitas Politik: “Black Flag” dan Label Syiah
Tantangan terbesar adalah persepsi politik. Iran dan Houthi di Yaman sering digambarkan oleh media Barat sebagai “negara paria” atau “poros teror” dengan simbol black flag (bendera hitam) yang menakutkan.
Namun, Indonesia harus melihat dari kacamata kepentingan nasional (raison d’état). Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Hubungan diplomatik yang hangat dengan Iran telah berlangsung lama. Status mereka sebagai negara Muslim Syiah atau rezim tertentu tidak relevan dengan urusan kontrak bisnis BUMN Indonesia. Minyak adalah komoditas. Ia tidak memiliki ideologi.
Selama lebih dari satu dekade, Iran dan Yaman telah menyuplai pasar dunia dengan minyak berkualitas premium tanpa status (unflagged) — artinya, mereka tetap menjadi pemain kunci di pasar gelap maupun resmi meskipun di bawah tekanan. Jika Rusia, China, dan bahkan negara-negara Eropa tertentu masih mencari celah untuk bertransaksi dengan Iran, mengapa Indonesia yang notabene negara non-blok harus ragu?
Momentum geopolitik saat ini adalah kesempatan yang tidak akan terulang. Ketegangan di Timur Tengah telah menciptakan “diskonto geopolitik” yang memungkinkan Indonesia masuk dengan harga investasi yang murah namun dengan imbal hasil yang sangat besar.
Jangan biarkan peluang ini berlalu begitu saja. Jika Indonesia bertindak cepat, mimpi harga barang murah dan rakyat yang bernapas lega bukan lagi sekadar jargon politik, melainkan realitas ekonomi di masa depan. Sudah saatnya Indonesia berinvestasi di sumurnya, bukan hanya mengantre di SPBU dunia.
Harus juga di ingat bahwa Jalur perdagangan Dunia ,khususnya Kapal dagang kargo Indonesia sangat Banyak melewati 2 selat itu, selat Hormuz dan selat bab El mandeb (laut merah).