Opini Publik: dulwahab Mumu Nasaru (Jurnalis,Koordinator Muslim Minahasa Rantau).
Di tengah pusaran krisis multidimensi yang melanda dunia, rakyat Indonesia mengharapkan keteduhan, bukan kegaduhan. Namun, gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto yang kerap berapi-api dan bernada marah perlahan menimbulkan kegelisahan di kalangan cendekiawan dan Rakyat. Bukan tanpa alasan; retorika keras seorang pemimpin akan diukur dengan realitas kekuatan yang ia miliki. Dalam konteks geopolitik dan ekonomi Indonesia saat ini, pidato penuh amarah bukanlah aset, melainkan potensi bumerang yang mengundang tawa dunia.
Pertama, kita harus jujur mengakui bahwa Indonesia bukanlah negara adidaya dengan persenjataan super canggih. Presiden Prabowo tidak memiliki rudal hipersonik atau armada drone drone canggih dan Nuklir seperti yang dimiliki Iran,China,Rusia,Amerika, Korea Utara.
Angkatan perang indonesia, meskipun tangguh dalam menjaga kedaulatan, masih tertinggal secara teknologi dari negara-negara maju dan belum teruji dalam perang besar dengan negara super power. Track record perang besar melawan kekuatan global pun tidak pernah tercatat dalam sejarah modern militer Indonesia. Lantas, atas dasar apa seorang pemimpin bersikap garang dan menggebu-gebu di panggung internasional dan nasional ,Pidato marah-marah hanya pantas dilontarkan oleh pemimpin yang memiliki kekuatan militer super besar dan sudah teruji dalam konflik global, Tanpa itu, sikap tersebut hanya akan dilihat sebagai bluster atau gertakan kosong yang justru merendahkan martabat bangsa indonesia di mata komunitas internasional.
Kedua, kondisi kantong ekonomi Indonesia saat ini sangat tipis. Kita masih berjuang melawan ancaman resesi, nilai tukar rupiah yang rapuh, dan harga pangan yang fluktuatif. Anggaran negara lebih prioritas untuk subsidi energi, perlindungan sosial, dan pembangunan infrastruktur dasar,Jika seorang presiden terus-menerus bicara dengan nada perang politik sementara rakyatnya sulit membeli beras, maka yang terjadi adalah disonansi kognitif yang merusak kredibilitas kepemimpinan. Dunia tidak akan takut pada pidato, mereka hanya akan hormat pada hasil kerja nyata dan stabilitas ekonomi serta Senjata Canggih dan Angkatan Perang yang Teruji dan Berani Mati.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan Presiden Prabowo di tengah keterbatasan ini? Jawabannya sederhana namun mendalam: lebih banyak berdoa, mengaji, dan berzikir. Memperbanyak hubungan spiritual justru akan menenangkan jiwa dan menjernihkan pikiran. Darilah pidato yang memanas, alangkah bijaknya jika beliau mendengarkan nasihat dari para pemikir kritis seperti Rocky Gerung yang kerap membedah logika kekuasaan tanpa beban atau para sesepuh di Tanah Minahasa yang kaya akan kearifan lokal dalam merawat harmoni. Lebih dari itu, merenung bersama para kiai sufi di Tanah Jawa dan Lombok serta Kalimantan yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kesabaran dan kecerdasan batin, serta berziarah ke makam para wali songo, adalah langkah terhormat untuk menyerap energi ketenangan spiritual. Para sunan tidak pernah menaklukkan tanah Jawa dengan amarah, melainkan dengan budaya dan keteduhan serta keikhlasan.
Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Cuaca ekstrem melanda dari satu belahan ke belahan lain; perang dagang dan konflik fisik militer mengancam setiap saat. Dalam situasi seperti ini, dunia tidak butuh pemimpin yang panas, melainkan pemimpin yang dingin,tenang, strategis, dan visioner.
Indonesia harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang teduh, bukan sebagai petarung yang kehabisan amunisi.
Sebagai penutup, sudah saatnya Presiden Prabowo mengubah orientasi retorikanya. Tinggalkan pidato berapi-api yang hanya pantas dimiliki oleh jenderal yang sedang berperang, bukan oleh kepala negara yang sedang berdamai dengan krisis. Saatnya merendah, memperbanyak doa, dan mendengarkan suara-suara kebijaksanaan dari berbagai penjuru Nusantara. Karena sejatinya, pemimpin yang besar bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling kuat doanya. Jika tidak, tawa dunia hanya akan menjadi gema pahit yang menghantui setiap pidatonya.
Mungkin juga Presiden Prabowo Harus belajar dan Ziarah ke makam imam Khomeini dan Syahid Ali Khamenei di Iran.