Opini Oleh: Dulwahab Mumu Nasaru (jurnalis,Pakar Iranology,Santri Madrasah Rausyanfikr).
Kondisi Global kini cuacanya sangat ekstrem,yang salah dan lambat meng antisipasi kondisi akan tergulung oleh badai yang sedang lapar. Untuk itu saya menyarankan agar Presiden Prabowo mau tidak mau harus segera memilih,Menggunakan Minyak Murah dari Iran atau tetap menggunakan minyak negara Teluk yang masih mahal .
Tak akan mungkin harga barang turun dan akan inflasi,jika minyak yang di gunakan di Indonesia masih kategori mahal dan stoknya terbatas.
Naiknya Harga minyak dunia akibat perang dari Ukraina hingga Perang Iran vs Amerika-israel di timur Tengah tentu membuat Harga minyak akan terus naik, perang ini akan lama dan tak memiliki kepastian damai,terbukti perang Ukraina vs Rusia ya g sudah terjadi beberapa tahun yang lalu dan belum selesai hingga hari ini,jadi harga minyak akan naik terus .
Minyak Murah Kunci Turunkan Harga: Mengapa Pemerintah Harus Berani Mengimpor Minyak Iran.
Dalam ilmu ekonomi, ada satu kebenaran mendasar yang tak terbantahkan: energi adalah biaya utama dari segala biaya. Harga minyak bukan sekadar angka di pasar global; ia adalah darah yang mengaliri setiap sendi produksi, distribusi, dan konsumsi. Ketika harga minyak naik, maka naik pula harga pangan, pakaian, rumah, dan jasa. Sebaliknya, tak akan mungkin harga barang turun jika minyak yang digunakan harganya mahal. Logika inilah yang seharusnya menjadi pijakan utama Pemerintah Indonesia saat ini: manfaatkan minyak Iran yang murah untuk memutus mata rantai inflasi dan melindungi ekspansi ekonomi rakyat.
Hubungan Kausal: Mahalnya Minyak = Mahalnya Segalanya
Indonesia adalah negara pengimpor minyak bersih. Setiap hari, jutaan barel minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) masuk ke Tanah Air untuk menggerakkan pabrik, truk logistik, kapal antar pulau, dan kendaraan umum. Ketika harga minyak dunia tinggi, biaya produksi di sektor manufaktur melonjak. Biaya transportasi barang naik drastis. Petani yang menggunakan pupuk berbasis gas dan alat mesin pertanian (alsintan) ikut terkena dampak. Akibatnya, harga beras, cabai, daging, dan ribuan komoditas lain merangkak naik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan bahwa inflasi di Indonesia memiliki korelasi kuat dengan kenaikan harga energi. Setiap kenaikan harga BBM bersubsidi atau non-subsidi selalu diikuti oleh lonjakan inflasi kelompok barang yang dapat bergejolak (volatile food) dan barang inti (core). Dengan kata lain, selama minyak yang diimpor mahal, rakyat akan terus membayar harga yang mahal di pasar.
Minyak Iran: Solusi Murah yang Terabaikan
Di tengah tekanan geopolitik global, Iran adalah produsen minyak besar yang menjual minyak mentahnya dengan diskon signifikan akibat sanksi ekonomi. Harga minyak Iran pada awal 2026 dilaporkan berada di kisaran US$ 64-70 per barel**, jauh di bawah harga minyak acuan global seperti Brent yang menembus **US$ 90-100 per barel. Selisih harga ini sangat signifikan. Jika Indonesia mengalihkan sebagian impor minyaknya ke Iran, penghematan biaya impor bisa mencapai miliaran dolar AS per tahun.
Lalu, apa yang bisa dilakukan dengan penghematan itu?
Menstabilkan Harga BBM Domestik: Pemerintah dapat mempertahankan harga BBM bersubsidi maupun non subsidi,(seperti Pertalite dan Solar) tanpa perlu menaikkannya, atau bahkan berpotensi menurunkannya. Ini adalah intervensi paling langsung untuk menahan inflasi dan Menurunkan harga barang dan menyelamatkan produksi dan distribusi ekonomi rill disemua sektor .
Mengalihkan Subsidi ke Harga Pokok Rakyat: Dana yang berhasil dihemat dari selisih harga (yang selama ini mungkin harus keluar untuk subsidi atau ditanggung Pertamina) bisa dialokasikan untuk menurunkan harga pangan, seperti operasi pasar murah, subsidi pupuk, atau bantuan langsung tunai (BLT).
Meningkatkan Daya Saing Industri: Biaya energi yang lebih murah membuat produk Indonesia (tekstil, alas kaki, makanan olahan) lebih kompetitif di pasar global karena biaya produksinya turun.
Menjawab Kekhawatiran: Kedaulatan Ekonomi di Atas Kepentingan dan Tekanan Asing
Argumen penolak biasanya berkisar pada risiko sanksi dari Amerika Serikat. Namun, perlu diingat bahwa Indonesia adalah negara berdaulat dengan politik luar negeri bebas aktif. China, India, Malaysia ,Pakistan ,Afrika,Amerika Latin dan Turki—negara-negara besar dengan kepentingan ekonomi yang sama—telah lama mengimpor minyak Iran tanpa mengalami konsekuensi fatal. Selama transaksi dilakukan melalui mekanisme pembayaran non-dolar (misalnya melalui sistem LCS, Local Currency Settlement) dan tidak melibatkan institusi keuangan yang diblokir AS, risiko dapat dimitigasi.
Lebih dari itu, pertanyaannya adalah: kepentingan siapa yang lebih utama? Apakah kepentingan diplomatik terhadap AS dan sekutunya, atau dapur emak emak dan perut rakyat Indonesia yang semakin tertekan karena harga barang tak kunjung turun? Tak akan ada harga barang yang turun selama biaya energinya tetap setinggi langit.
Momentum yang Tak Boleh Disia-siakan
Indonesia sedang menghadapi gelombang inflasi global dalam konflik geopolitik. Harga minyak dunia masih fluktuatif dan cenderung tinggi. Negara tidak punya banyak ruang fiskal karena belanja subsidi energi sudah membengkak. Dalam situasi seperti ini, mengimpor minyak murah dari Iran bukan lagi opsi, melainkan keharusan.
Pemerintah harus berani mengambil langkah strategis: negosiasikan kontrak impor minyak skala besar dengan Iran, siapkan skema pembayaran yang aman, dan komunikasikan secara terbuka kepada publik bahwa ini adalah kebijakan pro-rakyat untuk menurunkan harga barang. Karena pada akhirnya, rakyat tidak peduli dari mana minyak itu berasal; yang mereka pedulikan adalah apakah besok mereka masih bisa membeli beras, minyak goreng, dan naik angkutan umum dengan harga terjangkau. Tak akan mungkin harga barang turun jika minyak mahal. Sudah saatnya Indonesia memilih minyak Iran yang murah demi ekspansi ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Prabowo Harus Berani untuk membela kepentingan Rakyat Indonesia dari pada Keinginan dan kepentingan asing dan antek anteknya,jika Presiden Prabowo penakut,Bukan Orang Minahasa itu Namanya ,dan Rocky Gerung Harus Mendukung hal ini,Minyak murah dari Iran untuk Keberlangsungan Kehidupan Rakyat Indonesia Semesta.